Jumat, 07 Juni 2013

CARA CERDAS MENGHAFAL AL-QUR’AN



Assalamualaikum, Brother n Sista yang dirahmati Allah.. ngobrol yuk tentang mengahafal al-qur’an. Hmm.. sepertinya pembahasan tentang menghafal al-Qur’an selalu menarik ya. Terbukti banyak sekali buku-buku yang membahas tentang keajaiban menghafal al-Qur’an, atau tips n trik menghafal al-Qur’an. Saya yakin, setiap orang mempunyai trik sendiri-sendiri bagaimana cara mudah menghafal al-Qur’an. Cara saya menghafal al-Qur’an tentu beda dengan cara antum menghafal al-Qur’an. Iya kan? Oke, dalam tulisan ini, saya mencoba menshare bagaimana cara saya menghafal al-Qur’an.
PENTINGNYA MEMPELAJARI BAHASA ARAB
Dalam menghafal al-Qur’an ini, yang pertama kali saya rasakan menjadi sesuatu yang sangat mendukung dalam menghafal al-Qur’an adalah kemampuan berbahasa Arab. Ya, mempunyai ilmu bahasa Arab dan mempunyai kemampuan dalam menggunakannya adalah kunci yang pas dalam menghafal al-Qur’an. Mengapa kemampuan berbahasa Arab sangat andil dalam membantu menghafal al-Qur’an? Bukankah banyak sekali cerita yang mengatakan bahwa ada anak-anak kecil yang berhasil menghafal al-Qur’an secara keseluruhan padahal mereka tidak bisa bahasa Arab sama sekali? Mengenai cerita-cerita itu, saya tidak mengingkari kebenarannya. Tetapi saya anggap itu adalah suatu mukjizat atau keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka. Namun, tentunya dengan cerita-cerita itu, kita tidak bisa mengharapkan untuk mendapatkan mukjizat seperti mereka. Karena mungkin kita bukan termasuk orang-orang yang dipilih Allah untuk menerima karamah tersebut, tetapi kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah untuk menggapai kemuliaan dengan bekerja keras dalam menghafal al-Qur’an.
Kembali kepada kemampuan berbahasa Arab, mengapa bahasa Arab sangat membantu sekali dalam menghafal al-Qur’an? Ya, karena bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an. Dengan mempelajari bahasa Arab, tentunya sangat membantu kita dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Mungkin kita terlalu awang-awangen ya untuk mempelajari bahasa Arab? Habis bahasa Arab itu rumit dan sulit. Betul ga Bro, Sis? Hehe. Saya juga merasakan sulitnya mempelajari bahasa Arab kok. Pengalaman ngajar bahasa Arab; tapi sulit menjadikan anak bisa bahasa Arab :-) . Nah, lalu, kira-kira apa ya standar kemampuan berbahasa Arab yang bisa membuat kita terbantu dalam menghafal Al-Qur’an? Apakah harus bisa ngomong nerocos pakai bahasa Arab dulu biar mudah menghafal al-Qur’an? Hmm, menurut saya sepertinya tidak harus seperti itu ya. Jika tujuannya untuk mudah menghafal al-Quran, sepertinya cukup mempelajari sturktur kalimat dalam bahasa Arab dan memperbanyak mengenali kosa kata dalam bahasa Arab. Itu saja insya Allah cukup.
Struktur kalimat dalam bahasa Arab yang saya maksud itu seperti mengenali bagaimana bentuk fi’il (kata kerja), isim (kata benda) dan hurf (huruf), serta mengetahui cara penggunaannya. Jika penggunaan ketiga aspek itu sudah dikenali dan syukur-syukur dikuasai juga, maka insya Allah menghafal al-Qur’an akan lebih mudah. Nah, untuk itu Bro, Sis, yang saya sayangi, yuk bareng-bareng belajar bahasa Arab.. :-).
MEMBACA AL-QUR’AN TERJEMAHAN


Nah, ini nih, cara kedua yang saya pakai ketika menghafal al-Qur’an. Metode ini saya dapatkan tatkala saya ikut program tahfidz. Kebetulan di lembaga tahfidz yang saya ikuti mempunyai program pembagian dua mushaf kepada peserta tahfidz. Ada dua mushaf yang diberikan secara cuma-cuma kepada perserta tahfidz, yaitu mushaf kecil utsmani dan mushaf terjemahan dari Depag. Mushaf utsmany kecil yang dibagikan itu untuk penyeragaman dalam pemakaian model mushaf, supaya yang dipakai untuk menghafal adalah mushaf itu saja dan tidak ganti-ganti. Yang kedua adalah mushaf terjemahan. Awalnya saya tidak terlalu paham apa fungsi mushaf terjemahan tersebut. Yang penting saya diberi mushaf itu sudah cukup membuat saya senang.
Tatkala saya mulai menghafal al-Qur’an, yang kebetulan adalah membikin hafalan baru, artinya saya sama sekali belum hafal dengan surat tersebut, saya mencoba membuka mushaf terjemahan tersebut. Yang saya lakukan bukan membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan mushaf tersebut. Tetapi saya lebih condong membaca terjemahan ayat-ayat yang akan saya hafalkan.
Perlu diketahui, biasanya dalam mushaf terjemahan, tiap-tiap pembahasan dalam al-Qu’an selalu diberi subbab. Misalnya bab ‘Pendustaan orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an’, nah maka ayat-ayat yang ada di bawah subbab tersebut adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan pendustaan orang kafir terhadap al-Qur’an. Dalam satu subbab ini, saya membaca dan memahami isi subbab tersebut secara terperinci, sehingga saya bisa mengikuti alur pembahasannya. Ingat, yang saya baca bukan ayat-ayat yang tertulis dalam bahasa Arab, namun terjemahannya saja. Setelah saya faham betul isi subbab tersebut, (misalnya dalam satu subbab ada 11 ayat, maka yang saya baca hanya 11 ayat itu saja), saya baru membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan perlahan-lahan, sambil menerjemahkan perkata lafadz-lafadz ayat-ayat tersebut dalam hati. Nah, dalam hal ini, ilmu bahasa Arab akan terpakai. Saya beri contoh: di dalam surat al-Anbiya ayat 26 disebutkan:
 وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُون .
Jika kita melihat dalam mushaf terjemahan, maka arti yang kita dapatkan:
“Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. [957]. (Dalam pojok terjemahan tersebut ada catatan kaki: [957]. Ayat ini diturunkan untuk membantah tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu anak Allah).
Yang pertama saya lakukan adalah memahami betul tulisan dalam tejemahan tersebut. Setelah saya paham betul, maka saya akan membaca ayat وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُون . saya baca ayat ini pelan-pelan bahkan perlafadz sambil membayangkan arti dan maknanya. Seperti: وَقَالُوا : dan mereka berkata, اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ: Allah yang Maha Penyayang mengambil (mempunyai), وَلَدًا : anak. (maksudnya malaikat itu adalah anak Allah). سُبْحَانَهُ : Maha Suci Dia. بَلْ : bahkan, عِبَادٌ : (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba, مُكْرَمُون : yang dimuliakan.
Saya membaca ayat tersebut perlahan-lahan sambil membayangkan artinya, serta membayangkan maknanya (maksud ayatnya). Jika ayat tersebut belum betul-betul merasuk dalam pikiran dan hati saya, maka akan saya ulang ayat tersebut berkali-kali, sampai saya bisa membaca ayat tersebut dan langsung memahami makna ayatnya. Bahkan, mungkin saya juga agak lebay dalam metode ini, biasanya kalau saya faham betul dengan isi ayatnya, maka saya akan memberi konotasi ketika membaca ayat-ayat al-Quran. Sehingga dalam membaca al-Qur’an pun, suara saya agak menggebu-gebu, sesuai dengan isi ayatnya. Hmm, lebay banget ya.
Nah setelah, saya tuntas membaca ayat-ayat yang akan saya hafalkan, dengan cara tadi, yaitu, pertama, membaca dan memahami terjemahan ayat-ayat yang akan kita hafalkan, dan yang kedua, membaca ayat-ayat yang akan kita hafalkan secara perlahan sambil memahami makna ayat-ayatnya, maka saya akan memasuki tahap menghafalkan.
Jika diawal saya membaca ayat secara perlahan, maka tatkala sudah memasuki fase menghafal, saya mencoba membaca ayat-ayat yang akan saya hafalkan dengan cepat. (Ingat, ini masih dalam tahap membaca dengan membuka mata dan melihat tulisan). Saya akan membaca cepat ayat-ayat tersebut tanpa meniadakan pemahaman masing-masing ayatnya. Jadi membaca ayat-ayat dengan cepat sekaligus membayangkan arti dan maknanya secara cepat. Wah, kalau saya bayangkan, metode ini membuat pikiran encer dan cerdas ya. Karena melatih berpikir cepat. Nah jika saya sudah berhasil melampaui tahap ini, maka saya akan membaca ulang dari awal ayat yang akan saya hafalkan, satu persatu. Yah, saya akan membaca satu ayat dan langsung saya masukkan ke dalam pikiran saya. Artinya, saya menghafalkan ayat tersebut dalam satu kali melihat. Dan subhanallah, ternyata saya benar-benar bisa langsung hafal ayat tersebut hanya dalam satu kali melihat. Dengan begitu, saya bisa melanjutkan ayat berikutnya. Ayat kedua sudah berhasil saya hafalkan, maka saya akan mengulang dari ayat yang pertama kali saya hafalkan lebih dahulu. Artinya saya menyambungnya. Dan alhamdulillah, saya bisa menggabungkan dua ayat tersebut tanpa melihat mushaf. Setelah itu saya lanjut ayat ketiga dan begitu seterusnya, sampai ayat terakhir yang sudah saya rencanakan sebelumnya.
Dengan metode ini, yaitu menghafal dengan membaca mushaf terjemahan, saya merasakan keajaiban yang luar biasa. Yaitu, saya bisa menghafalkan satu halaman mushaf dalam setengah jam saja.
Mulai dari sinilah saya baru mengetahui fungsi mushaf terjemah dalam menghafal al-Qur’an. Ternyata mushaf terjemah memudahkan kita dalam menghafal al-Quran. Walaupun mungkin kita belum mendapatkan tafsir surat yang akan kita hafal, maka mushaf terjemah sedikit banyak membantu pemahaman kita terhadap ayat-ayat yang kita baca. Selain itu, mengapa mushaf terjemah sangat membantu kita dalam menghafal al-Qur’an? Karena, dengan membaca terjemahan ayat-ayat al-Qur’an, kita bisa faham dengan ayat-ayat yang kita baca dan kita hafalkan. Tidak masuk akal sama sekalikan kalau kita menghafal sesuatu yang tidak kita paham? Yah, kalau kita analogikan, seperti orang menghafal teks bahasa Prancis yang sama sekali tidak ia pahami. Tentu sangat sulit sekali. Inilah, mungkin salah satu penyebab mengapa ada seseorang yang mengeluhkan sulit menghafal al-Qur’an. Tidak lain dan tidak bukan karena dia tidak faham dengan apa yang sedang ia hafalkan.
SERING MEMBACA & MENDENGARKAN SURAT YANG AKAN DIHAFAL
Sering mendengarkan surat yang akan dihafal ternyata cukup membantu dalam menghafal al-Qur’an. Karena dengan sering mendengar surat yang dihafal, membuat kita terbiasa mendengar lafadz-lafadz atau kata-kata yang ada di dalam surat tersebut, dan  kita pun menjadi kenal dengan lafadz-lafadznya.
Ini termasuk salah satu dari rangkaian metode yang saya pakai dalam menghafal Al-Qur’an. Saya selalu membiasakan diri melakukan tilawah satu surat secara keseluruhan pada surat yang sedang saya hafalkan. Misalnya saya sedang menghafalkan surat al-Anbiya’yang berisi 112 ayat, maka saya selalu membaca dari ayat pertama hingga ayat ke 112. Walaupun saya sedang menghafalkan ayat 5. Itu saya lakukan 2x sehari. Yaitu ba’da maghrib dan ba’da subuh. Mengapa saya melakukan hal demikian? Yah karena supaya terbiasa dengan lafadz-lafadz yang ada dalam surat tersebut.
Selain tilawah secara keseluruhan, saya juga memperbanyak mendengarkan murottal surat yang sedang saya hafalkan tersebut. Jika bukan saya yang ngaji, maka laptop saya yang ngaji. Begitu prinsip saya. Bahkan, ketika saya tidur pun, murottal tidak saya matikan. Walaupun sampai satu malam.
Mungkin teman-teman akan bertanya-tanya, mengapa murottal dibiarkan menyala sedang pendengarnya tidur pulas? Bukankah itu termasuk perbuatan mubadzir? Kalau saya sendiri, mengapa melakukan hal demikian, karena konon, walau pun jasmani kita tidur, otak kita tidak tidur. Bahkan lebih baik dalam bekerja menangkap informasi. Dan pernah juga saya membaca disebuah buku, lupa saya judul buku itu apa, bahwa jika kita membiasakan diri mendengarkan murottal ketika tidur, maka beberapa tahun kedepan, kita akan ingat dengan surat-surat yang kita dengarkan beberapa tahun silam dengan sendirinya. Pernyataan itu saya yakini kebenarannya. Sehingga tanpa ragu saya mempraktekkan metode mendengarkan murottal ketika tidur.
Selain itu, dampak mendengarkan murottal ketika tidur adalah membuat tidur kita lebih nyenyak dan tenang. Yang mencengangkan juga, jika ketika tidur malam saya menyetel murottal, maka saya bisa bangun lebih pagi dari semestinya. Dan ketika saya dalam keadaan setengah sadarpun, yang pertama kali saya tangkap adalah ayat-ayat al-Qur’an. Setelah saya sadar penuh, secara otomatis saya langsung mengikuti bacaan ayat-ayat yang ada dalam murottal tersebut. Subhanallah. Bangun tidur dalam keadaan suasana hati bebas dari kotoran-kotoran dosa.
PILIH QARI’ MUROTTAL YANG JADI FAVORIT
Ini nih, yang tak kalah penting. Pilih qari’ murattal yang kita suka. Banyak sekali qari’ al-Qur’an yang kita kenal. Ada syaikh al-Ghamidi, syaikh Matrud, syaikh imam as-Syatiry, syaikh Emad al-Minsyari, syaikh Musyari Rasyid al-Fasyi, dan masih banyak sekali. Masing-masing dari kita pasti mempunyai qari’ idola. Nah, untuk membantu hafalan, kita bisa memilih qari’ idola kita untuk membantu dalam menghafal. Mengapa harus memilih satu qari’ yang kita idolakan? Yah, tentunya gaya baca atau tarannum (lagu, nada) yang dipakai sang qari’ sudah melekat benar dengan telinga, hati dan pikiran kita. Sehingga dalam menirukan bacaan sang qari’ idola pun kita tidak kesulitan. Kalau qari’ yang saya suka adalah syaikh Musyari Rasyid. Tetapi ternyata murottal syaikh Musyari Rasyid itu ada beberapa versi. Sepertinya versi ke dua milik syaikh Musyari Rasyid yang menjadi favorit saya.
Pernah saya mendengar/membaca (lupa), bahwa murottal syaikh Musyari Rasyid menjadi contoh yang baik dalam menghafal Al-Qur’an, karena bacaannya yang pelan, dan tarannum (nada)nya teratur. Sehingga sangat bagus dan pas untuk membantu dalam menghafal al-Qur’an.
Inget sekali saat saya masih tinggal di pospes, para akhawat sangat suka sekali dengan bacaan syaikh Musyari Rasyid. Hingga mereka pun sering menirukan bacaan syaikh Musyari. Hampir di setiap tempat dan di setiap waktu, saya selalu mendengar beberapa akhawat yang dengan asyiknya menirukan bacaan beliau. Seakan-akan bacaan syaik Musyari itu seperti nyanyian. Subhanallah. Mungkin hal inilah yang akhirnya membuat saya ikut-ikutkan memfavoritkan murottal syaikh Musyari Rasyid.
GUNAKAN TARANNUM (IRAMA) KETIKA TILAWAH
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Baguskanlah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.” Beliau juga bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.”
Menggunakan tarannum atau irama saat membaca al-Qur’an itu hukumnya mustahab atau disukai. Bahkan ada satu hadits yang menyebutkan bahwa Allah sangat menyukai hambanya yang membaca al-Qur’an dengan irama. Tentunya irama yang digunakan adalah irama yang sewajarnya. Irama yang tidak merubah tajwid dan makhraj hurufnya.
Kita akan bisa menghafal al-Qur’an jika kita suka dengan al-Qur’an. Tapi kalau kita tidak suka dengan al-Qur’an, misalnya melihat al-Qur’an bawaannya males melulu, maka dijamin 80% tidak akan suka menghafal al-Qur’an. Lalu bagaimana supaya kita bisa menyukai al-Qur’an? Tentu jawaban pertama kali adalah ingat fadhilahnya. Ingat keutamaannya. Keutamaan membaca al-Qur’an dan menghafal al-Qur’an sangat banyak sekali. Yang kedua, kita memohon kepada Allah supaya memberi kita kecintaan terhadap al-Qur’an. Yang ketiga, kita mempelajari al-Qur’an.
Nah untuk yang nomor ketiga, yaitu supaya kita mencintai al-Qur’an, kita harus mempelajari al-Qur’an terlebih dahulu. Mempelajari al-Qur’an ialah mempelajari cara membaca al-Qur’an dan mempelajari tafsir al-Qur’an. Yang saya tekankan dalam hal ini adalah kita mempelajari bacaan al –Qur’an. Mempelajari cara membaca al-Qur’an dengan benar itu sangat penting sekali. Selain membuat kita lancar dalam membaca al-Qur’an, kita juga bisa memperbagus bacaan al-Qur’an kita.
Saya masih ingat ketika awal belajar tahsin al-Qur’an, tidak disangka membuat saya 100x lebih tertarik kepada al-Qur’an. Dengan belajar tahsin al-Qur’an, membuat saya bisa membaca al-Qur’an dengan benar, bahkan membuat irama bacaan saya menjadi lebih teratur. Saya pun menjadi menikmati bacaan al-Qur’an saya dan betah berlama-lama dalam bertilawah.
Itulah, betapa pentingnya menggunakan irama ketika membaca al-Qur’an. Kita bisa menikmati bacaan al-Qur’an kita karena bagusnya irama kita. Perlu diketahui, biasanya jika kita menikmati irama tilawah kita, maka orang lain pun akan menikmati bacaan al-Qur’an kita. So, baguskan seni irama tilawah Anda, dan Anda akan merasakan sensasinya. (??. Hehe).

Mungkin ini dulu yang bisa saya share tentang kiat menghafal al-Qur’an ala saya sendiri, :-). Dan boleh sekirannya teman-teman mau ngeshare juga cara menghafal al-Qur’an ala teman-teman. Karena setiap orang mempunyai metode sendiri-sendiri, dan sulit untuk diseragamkan.
Ok. To be continued.

Rabu, 05 Juni 2013

JANGAN JADI "MISS MENGELUH"



Hai, girls, pernah ga kamu menghitung berapa kali kamu mengeluh dalam satu hari? Yah, mengeluh karena kerjaan rumah yang ga selesai-selesai, atau karena menu sarapan paginya tak sesuai selera, atau mengeluh gara-gara kemacetan di jalan, dan lain sebagainya. Mungkin kalau kita catat semua yang kit keluhakan dalam daftar sepertinya tak terhitung, sangking banyaknya. Betul tidak, girls? Hmm, mungkin mengeluh itu sesuatu yang wajar dilakukan ya, karena manusiawi gitu. Apalagi Allah sudah berfirman dalam surat al-Ma’arij, bahwa manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah, dia mengeluh, tapi ketika dia ditimpa kebaikan, dia menjadi kikir. Itu lah manusia yang telah ditetapkan oleh Allah mempunyai kebiasaan buruk. Namun apakah kemudian kita boleh memanjakan sifat buruk yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita? Tentu tidak kan? Karena Allah telah memberikan kita akal sehingga bisa kita gunakan untuk membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Grils kalau kita mencoba menengok, sebenarnya yang banyak kita keluhkan adalah masalah duniawi. Yah, kita mengeluhkan masalah duniawi yang selalu tidak membuat kita puas. Girls, sejatinya, mengeluh itu terjadi karena kita sangat minim rasa syukur, sabar dan tawakkal. Bagaimana tidak, sebenarnya Allah telah memberi banyak sekali nikmat, akan tetapi kita tidak menyadarinya, bahkan kalaupun kita sadar, kita malah melupakannya. Salah satu kenikmatan yang tak terkirakan adalah nikmat sehat. Dengan sehat, kita bisa melakukan banyak hal. Namun, karena kurangnya rasa syukur kita, kita tetap  tidak mensyukuri hasil dari nikmat sehat itu. Yang kedua adalah sabar. Kita mengeluh karena kurang bersabar. Mengakui atau tidak, keluhan tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi mengapa kita tidak bersabar saja yang lebih berpahala?. Yang ketiga, tawakkal. Kalau kita tawakkal dan menyerahkan seratus persen kepada Allah hasil yang akan kita capai, tentu kita tak akan merasa susah dengan semua halangan yang menghalangi kita.

Senin, 03 Juni 2013

ASyEK.. USTADZAHNYA FUN BANGET NGAJARNYA



Itu mah komentar peserta didik ya.. J. Kalau misalnya kita yang jadi ustadzah yang dapet komentar seperti itu, kira-kira respon kita gimana? Pasti hati kita berbunga-bunga ya.. atau malah kita bilang ‘biasa aja kali’, atau ‘halah, gombal’. Hemm, bagaimana pun komentar atas penilaian yang disampaikan peserta didik kepada kita, pasti saya yakin, dari lubuk hati yang paling dalam, kita sesungguhnya senang bahkan hidung kita kembang kempis karena bangga banget dapat pujian seperti itu. Betul tidak kawan? Haha. Ngaku aja lah, tak usah malu. J
Yah, memang kebanyakan or ang kalau belajar penginnya belajarnya asyik, tidak tegang, tidak terlalu monoton, banyak humor tapi menginspiratif, tidak membosankan, dan masih banyak lagi. Makanya tidak heran kalau ada seorang ustadz-ustadzah yang mengajar sesuai kriteria yang diinginkan para peserta didik, maka otomatis akan disukai para peserta didik.
Nah, tentu di dalam kelas atau majlis ta’lim, kita sebagai ustadz-ustadzah harus menghadapi sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan kemampuan/potensi, yang kesemuannya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran. Sehingga tidak jarang terjadi aksi mogok sekolah, ngaji, TPA, atau dengan kata lain membolos, yang dilakukan oleh beberapa peserta didik hanya karena pelajaran atau ustadz pengampu mata pelajaran terasa sulit dan menyulitkan. Untuk kepentingan inilah, para ustadz-ustadzah dituntut untuk memberikan motivasi untuk membangkitkan semangat belajar mereka. Menciptakan suasana yang menyenangkan, mencair tak beku tak kaku, penuh semangat, dan membuat para peserta didik kembali menggebu-gebu untuk terus belajar. Para peserta didik akan tertarik belajar dan sudi untuk belajar bersungguh-sungguh jika mereka mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi. Nah dengan demikian, mau tunggu apalagi untuk menjadi ustadz-ustadzah yang menyenangkan dalam mengajar?
Ngomong-ngomong tentang mengajar yang menyenangkan, sebenarnya gimanasih cara supaya bisa menjadi ustadz-ustadzah yang menyenangkan atau fun dalam mengajar? Boleh dong kita mengintip pendapat-pendapat para pakar pendidikan mengenai mengajar dengan methode yang fun? Oke. Mari kita simak pendapat mereka.

Mengajar yang fun ala Erman Pawitasari M.Ed.
Erma Pawitasari M.Ed, salah satu pakar pendidikan, mengatakan dalam seminar International Education Training bertema Smart Teaching and Fun Learning,  bahwa cara mengajar dengan metode read, repeat, dan distribute, bisa menjadi salah satu alternatif untuk dapat mengajar dengan menyenangkan. Selain menyenangkan, metode ini bisa menguatkan daya ingat para peserta didik. Bahkan membuat para peserta didik belajar dengan aktif dan kreatif. Erma juga menyarankan sebaiknya para pengajar ketika mengajar hendaknya memberi materi yang mempunyai banyak makna. Apabila membahas mengenai ilmu sains, maka sajikan juga ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan materi yang disajikan. Contohnya ilmu sains dikaitkan dengan ilmu agama yaitu dengan cara mencantumkan hadist atau ayat-ayat al-Quran. Cara tersebut akan lebih cepat difahami. Dalam penerapan metode ini, para ustadz-ustadzah bisa mencoba mengkait-kaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan lain. Mengajar hadits atau tafsir misalnya, bisa juga dikaitkan dengan ilmu kesehatan, social, sejarah dan lain sebagainya.
Memang untuk bisa mengaitkan pelajaran yang disampaikan dengan tema yang lain perlu pengetahuan yang sangat luas sekali. Banyak membaca bisa menjadi alternatif yang baik. Di pesantren tempat saya mengajar, ada seorang ustadzah muda, bukan saya tentunya, tapi teman saya J, yang sangat diidolakan oleh anak-anak. Ia berhasil menjadi ustadzah idola karena ketika mengajar ia selalu mengaitkan materi yang sedang dibahas dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain. Kebetulan sang ustadzah adalah seorang yang kutu buku banget. Jadi tidak heran pengetahuannya tentang ilmu luar sangat luas sekali. Misalnya, membahas tentang Bani Israel di surat Al-Baqarah, maka sang ustadzah mengaitkannya dengan sejarah pergerakan Yahudi jaman dulu sampai sekarang. Benar-benar sangat cerdik sekali teman saya dalam mengambil hati para peserta didiknya. Sehingga tak heran, ketika salah seorang santri berseru “ Aku betah berjam-jam belajar, asal yang mengajar Ustadzah Fulanah”. Masya Allah, Alhamdulillah. Nah bagaimana kawan? Tentu kita bisa mencontoh metode pengajaran yang satu ini kalau kita benar-benar ingin disukai para peserta didik. Pengen disukai bukan berarti kita tidak ikhlas lho. Memang, cara yang bagus dalam berdakwah adalah mengambil hati orang yang akan didakwahi, selagi tidak menyeleweng dri syariat. Betulkan?

Jasmin Simon: bikin murid senang dan tambah dekat dengan pengajar
Oke. Selain cara mengajar yang disarankan oleh Erma Pawitasari, seorang pakar pendidikan dari Singapura, Jasmine Simon, juga mengatakan bahwa mengajar itu akan sangat menyenangkan apabila seorang pengajar bisa menyesuaikan metode mengajarnya dengan kondisi para peserta didiknya. Apapun metode mengajar yang digunakan, jika itu berhasil membuat para peserta didik merasa senang dan dekat dengan guru, maka itulah metode yang pas. Jika begini adanya, maka seorang ustadz-ustadzah tentu harus mengetahui kemampuan setiap peserta didik, mengenal bagaimana lingkungan hidupnya, karakternya, aktivitasnya sehari-hari, bahkan harus membedakan apakah peserta didik perempuan atau laki-laki. Dengan mengenali itu semua, maka sangat mudah sekali bagi ustadz-ustadzah dalam memilih metode mengajar yang pas dan mudah kena sasaran. Jika seorang peserta didik merasa kesulitan dengan materi yang sedang diajarkan, maka menjelaskan kembali dengan memberi gambaran atau contoh-contoh yang biasa ia temui dalam lingkungannya atau ia alami dalam aktivitasnya akan mempermudah dia dalam memahami pelajarannya dengan cepat.
Oke, kalau Erma Pawitasari dan Jasmine Osmon sudah memaparkan cara jitu bagaimana metode mengajar yang fun itu, maka bolehlah kita merilisnya satu persatu, bagaimana supaya para peserta didik dapat senang dengan pengajaran kita. Tak perlu diragukan lagi, bahwa cara mengajar yang sangat menyenangkan adalah jika proses pengajaran dilakukan dengan aktif, kreatif dan menyenangkan. Dengan demikian, para peserta didik akan termotivasi untuk terus belajar bersama dalam satu kelas atau majelis.
Untuk menciptakan pengajaran yang aktif. kreatif plus menyenangkan tentunya diperlukan berbagai ketrampilan mengajar. Dengan ketrampilan ini, ustadz-ustadzah bisa memvariasi cara penyampaian ilmu kepada para peserta didik.
Untuk variasi pengajaran, ustadz-ustadzah bisa menggunakan ketrampilan yang  aktif di dalam kelas, seperti mengadakan pembukaan dan penutupan pelajaran, menjelaskan, serta mengadakan variasi.
1.      Mengawali dengan pembukaan dengan penuh semangat.
Pembukaan yang dilakukan dipertama kali pertemuan biasanya yang akan ikut andil dalam menentukan lancar tidaknya sebuah majlis ta’lim. Jika pembukaan diawali dengan cara yang sangat professional, menyenangkan, dan penuh semangat biasanya sudah mampu menarik perhatian para peserta didik. Karena membuka pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seorang ustadz-ustadzah untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada pelajaran yang akan disajikan. Untuk mencapai hal-hal tersebut, maka ustadz-ustadzah bisa melakukan upaya berikut:
1.      Memulai kegiatan belajar mengajar dengan sambutan yang meriah. Seusai salam, ustadz-ustadzah bisa langsung menanyakan kabar kepada para peserta didik, atau bisa juga dengan menggunakan yel-yel bersama yang sifatnya menggugah semangat. Kalau di pesantren tempat saya mengajar, para santriwati pasti semangat sekali ketika ustadz-ustadznya menyambut mereka dengan pertanyaan: kaifa halukunna? (bagaimana kabar kalian semua). Dengan pertanyaan itu, dengan serentak dan suara membahana, para santri berseru: ‘Alhamdulillah! Hammasatun! Allahu Akbar!!’ (Alhamdulillah! Semangat! Allahu Akbar). Santriwati sendiri yang menciptakan yel-yel itu. Bersyukur sekali saya mempunyai anak didik yang selalu menumbuhkan motivasi sendiri, sehingga bukannya ustadzahnya yang membuat mereka semangat, tetapi justru malah mereka yang membuat para ustadz-ustadzahnya semangat mengajar. Benar-benar ajiib. ^_^
2.      Sebelum masuk ke inti pelajaran, ustadz-ustadzah bisa memulainya dengan memberikan pertanyaan mengenai pelajaran yang telah lampau. Sangat bagus sekali jika pada beberapa menit pertama digunakan untuk mengulang pelajaran sebelumnya dengan sekilas. Bisa juga, untuk menarik perhatian, ustadz-ustadzah mengawali pelajaran dengan cerita yang penuh hikmah. Dengan demikian pengajaran akan berjalan mulus lebih awal karena para peserta didik sudah focus pada pengajar di awal waktu.
3.      Menyampaikan tujuan (kompetensi dasar) yang akan dicapai.
4.      Mengulang sebentar materi yang sudah dijarkan di waktu yang lampau untuk sekedar mengingat. Setelah itu ustadz-usatadzh menghubungkan materi tersebut dengan materi yang akan diajarkan.
2.      Mengadakan Variasi
Pintar-pintar menciptakan variasi mengajar merupakan satu ketrampilan yang harus dikuasai para ustadz-ustadzah untuk mengatasi kebosanan para peserta didik dan menjaga ketekunan, semangat, serta antusias mereka dalam belajar. Berikut ini beberapa variasi yang bisa dicoba:
1.      Memvariasikan suara, gerakan badan dan mimik, mengubah posisi, dan mengadakan kontak pandang dengan para peserta didik.
2.      Variasi dalam menggunakan media pengajaran, seperti alat-alat peraga. Akan sangat baik sekali jika media tersebut bisa dilihat kasat mata.
3.       Variasi dalam pola interaksi misalnya dengan mengolompokkan peserta didik, tempat kegiatan pembelajaran, dan lain-lain.
3.      Tips Menyampaikan Materi
Dalam menyampaikan materi pengajaran, diperlukan sekali variasi yang mendukung kelancaran berlangsungnya kegiatan belajar mengajarnya. Walaupun misalnya para ustadz-ustadzah menyampaikan materi pengajaran dengan cara berceramah atau menjelaskan, maka tetap diharapkan para peserta didik tetap antusias mengikuti pelajaran sampai akhir. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa dicoba:
1.      Ikhlas. Nah, ini mah yang harus dipatok pertama kali. Ikhlas merupakan pondasi dalam melakukan segala kegiatan. Jika dalam mengajar ustadz-ustadzah ikhlas untuk berbagi ilmu, maka otomatis cara penyampaian materi yang ustadz-ustadzah lakukan akan terasa menyenangkan dan mudah difahami bagi semua peserta didik.
2.      Menguasai materi. Untuk bisa menyampaikan materi dengan baik, tentu para ustadz-ustadzah dituntut untuk menguasai materi yang akan disampaikan. Dengan demikian, ustadz-ustadzah tidak bingung ketika menjelaskan maupun ketika mendapat pertanyaan dari peserta didik.
3.      Ketika menyampaikan materi pengajaran, kita usahakan dengan bahasa yang sederhana, lugas dan tidak bertele-tele.
4.      Memberikan contoh yang riil untuk setiap materi yang disampaikan. Kalau perlu juga memberikan analogi untuk penjelasan yang dianggap rumit.
5.      Memberikan canda tawa atau humor ditengah-tengah pelajaran juga sangat perlu diadakan untuk mencairkan suasana, dan lebih membuat anak rileks.
6.      Mengajukan pertanyaan kepada peserta didik untuk mencek pemahaman mereka.
7.      Sangat dianjurkan untuk memberi tantangan kepada para peserta didik untuk menguatakan pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan. Misalnya, para peserta didik yang mengaku sudah faham dengan penjelasan ustadz-ustadzah, disuruh mengulang di depan kelas seakan-akan ia adalah ustadz atau ustadzah yang sedang mengajar.
4.      Mengakhiri dengan penutupan yang berkesan
Untuk mengakhiri kegiatan belajar, ustadz-ustadzah bisa dengan menyimpulkan kembali materi yang telah disampaikan. Mengajukan beberapa pertanyaan kepada semua peserta didik untuk mencek pemahaman juga sangat baik untuk dilakukan. Selain itu juga, ustadz-ustadzah juga perlu memberikan tugas rumah baik berupa latihan-latihan praktek yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan, atau pun membaca bacaan yang terkait dengan pelajaran untuk menguatkan pemahaman atau menambah wawasan. Sebelum menutup majlis, ustadz-ustadzah sebisa mungkin memberi pesan atau motivasi kepada para peserta didik untuk terus belajar dan tak berputus asa.