Rabu, 01 Mei 2013

DI ANTARA DUA MALAM PERTAMA

Wanita itu bernama Salma, sebuah nama yang sangat indah sekali. Kelembutannya, keanggunannya, kesopanannya, sangat kontras sekali dengan nama yang disandangnya. Tak heran jika banyak lelaki yang mendambakan pendamping hidup sesempurna Salma. Bukan karena kecantikannya yang memesona, tapi tak lain adalah karena perangainya yang sangat terpuji. Mungkin perangai inilah yang mewarnai aura jasmaninya, sehingga tak seorang pun yang meragukan kecantikan yang dimilikinya.
Salma sama sekali tak pernah mengenal laki-laki ajnabi (asing). Ia benar-benar menjaga kesucian dirinya, tak ingin setitik noda mengotori hatinya. Ia selalu merawat imannya, menjaga akhlaknya, dan menamengi dirinya dengan kain panjang yang menjurai dari kepala hingga kakinya.
Hari ini adalah hari istimewa buat Salma. Allah menganugerahinya seorang laki-laki yang mau menerimanya tanpa memintanya untuk membuka tabir wajahnya. Yah, memang seperti laki-laki muslim yang lainnya, terpesona bukan karena kecantikan jasmaninya, tetapi karena kecantikan akhlak dan rohaninya.
Upacara diadakan secara islami. Tak seorang pun yang mempermasalahkan tekhnis penyelenggaraan upacara ini. Semuanya merasa nyaman dengan syari’at Allah dan Rasulnya. Walimatul urs benar-benar berjalan lancar.
Malam telah tiba. Malam ini merupakan malam pertama bagi Salma dan suaminya. Malam yang kebanyakan orang mengatakannya sebagai malam yang paling indah. Bagaimana tidak, dua orang yang tak saling mengenal tiba-tiba duduk bersama, saling berkenalan, saling mencoba merajut cinta.
Salma dan suaminya menikmati hidangan malam pertamanya dengan amat suka cita. Cerita-cerita menarik dan lucu meluncur begitu saja dari bibir-bibir mereka. Yah menikmati hidangan sambil bersenda gurau. Indah sekali. Tetapi suasana indah itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka mendengar sebuah ketukan di pintu. Suami Salma mendesah sebal.
“Siapa sih yang datang malam-malam begini?” Wajahnya terlihat sangat kesal dan marah. Merasa kesibukannya terusik. Dengan cepat Salma bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu. Ia berhenti tepat di belakang pintu.
“Siapakah bertamu malam-malam begini?” Tanyanya lembut .
“Saya tuan, bolehkah saya meminta sedikit makanan?” Jawab orang yang berada di balik pintu. Suaranya purau dan lemah. Seakan benar-benar membutuhkan makanan.
Salma kembali ke tempat suaminya duduk dan langsung mendapat sambutan berupa pertanyaan ketus dari suaminya.
“Siapa yang ada di pintu itu?” Pertanyaan yang disertai amarah.
“Pengemis yang meminta sedikit makanan, Mas ...” Salma menjawab dengan hati-hati.
“Huh! Inikah orang yang mengusik istirahat kita padahal kita sedang menikmati malam pertama kita?!” Kata suami Salma dengan penuh amarah. Laki-laki itu bergegas keluar untuk menemui pengemis yang berada di luar. Salma hanya berdiri terpaku menyaksikan amarah suaminya yang tak terkendalikan itu.
‘Buk! Buk!’ Suara pukulan dan tendangan yang dilakukan bertubi-tubi. Sebuah pelampiasan yang sangat tak berperikemanusiaan.
“Pergi sana! Dasar pengemis tak tahu diri! Bertamu malam-malam ... ! Mengganggu saja! Sana pergi! Pergi! Cepat! Buk. Buk.”
“Ampun Tuan, Ampun..,” rintihan pengemis malang itu terdengar menyayat hati.
Akhirnya pengemis itu pun pergi membawa rasa laparnya yang sangat dan rasa perih dari luka yang memenuhi ruh, jasad dan kemuliaan harga dirinya.
Salma mengatupkan kedua tangannya. Tak disangkanya, laki-laki yang baru saja sah menjadi belahan jiwanya melakukan perbuatan kasar yang sangat dibencinya.
Suami Salma masuk kembali menemui pengantinnya. Nafasnya terengah-engah. Dadanya sesak karena emosi dan amarahnya yang meledak-ledak. Kecewa dengan pengemis yang tega memutus kesenangannya duduk-duduk bersama istrinya. Salma pelan-pelan mendekati suaminya, dan mengelusnya lembut. Berusaha menenangkan suaminya.
“Aaagh... hh..hh..” “Aaagh...hh..hh..”
Salma panik. Tiba-tiba saja suaminya merintih kesakitan. Sepertinya ada sesuatu yang merasuki tubuhnya sehingga ia meronta-ronta tak terkendalikan diri.
“Mas ... Mas ... oh, ya Rabb. Lahaula wala quwaata illa billah. Ya Allah, bantulah hamba..”. Salma berusaha mengendalikan suaminya yang tambah meronta dan memukuli kepalanya sendiri. Salma kwalahan. Tiba-tiba suaminya lari terpontang-panting menuju pintu depan dan akhirnya keluar rumah. Salma mengejarnya, tapi usahanya sia-sia. Suaminya telah lari jauh dari dirinya.
Jalanan sepi. Salma terduduk lemas di tengah jalan. Nafasnya sesak. Air matanya mengalir deras tak terbendung. Ia bingung harus berbuat apa. Lampu-lampu rumah sudah padam. Para penghuninya tentu sudah tertidur lelap.
***
Kini, sudah 10 tahun Salma hidup mandiri tanpa pendamping. Suaminya yang hilang sudah tak terdeteksi lagi kemana perginya. Polisi pun juga tak menemukan jejaknya.
Seorang saudagar kaya raya mempersuntingnya. Salma yang telah menjanda 10 tahun menerima lamaran yang diajukan kepadanya. Resepsi pernikahan segera dilaksanakan dengan meriah dan syahdu. Salma mengharap, semoga pernikahan ini akan mengobati rasa sedihnya yang ia rasakan selama 10 tahun ini.
Malam pun tiba. Ini adalah malam pertama yang kedua kalinya Salma rasakan. Hidangan malam sudah ia siapkan sesempurna mungkin. Ia ingin benar-benar bisa menikmati malam pertamanya kali ini.
Salma dan suaminya menikmati hidangan malam pertama dengan amat suka cita. Cerita-cerita menarik dan lucu meluncur begiatu saja dari bibir-bibir mereka. Yah menikmati hidangan sambil bersenda gurau. Indah sekali. Tetapi suasana indah itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka mendengar sebuah ketukan di pintu.
“Salma, coba lihatlah siapa yang bertamu malam-malam begini. Dan tanyailah, apa keperluannya “. Kata suaminya lembut. Salma segera bangkit dari duduknya dan bergegas menuju pintu.
“Siapa kah di luar?” tanyanya lembut.
“Pengemis, Tuan. Mohon sedikit makanannya, Tuan. Aku sangat lapar sekali”. Suara purau itu menjawab lirih. Salma kembali kepada suaminya.
“ Seorang pengemis, Mas. Dia kelaparan dan menginginkan sedikit makanan “. Salma menatap suaminya, meminta pertimbangan. Sedangkan yang ada di meja makan hanyalah hidangan spesial yang dipersiapkan untuk pasangan pengantin baru itu.
Suaminya, mengambil hidangan yang ada..
“Berikan ini pada pengemis itu. Biarkanlah ia makan sampai kenyang. Kita akan memakan apa yang tersisa ...”.
Salma menemui pengemis dan menyerahkan makanan yang ia bawa kepadanya.
Tak lama, Salma kembali masuk menemui suaminya. Tetapi ia dalam keadaann terisak. Suaminya menatap heran.
“ Ada apa dengan mu? Mengapa menangis? Apa yang terjadi? Apakah pengemis itu mencacimu?” Tanya suami Salma penuh dengan kekhawatiran. Salma semakin terisak. Ia menggelengkan kepalanya.
“Tidak ..” jawabnya disela-sela tangisnya.
“Apakah dia menghina mu?”
“Tidak ..”
“Dia mengganggumu?” Salma kembali menggelengkan kepalanya.
“Lalu, apa yang membuatmu menangis?”
“Suamiku, pengemis yang saat ini duduk di depan pintumu itu, dan memakan makananmu, dia adalah suamiku yang hilang 10 tahun yang lalu.. Dahulu, saat malam pertama ku bersamanya, seorang pengemis mengetuk pintu kami. Lalu suamiku keluar dan memukulinya kemudian mengusirnya. Tatkala suamiku kembali masuk, keadaannya sudah seperti sekarat. Dia meronta-ronta sangat kesakitan. Aku menyangka dia kesurupan atau kemasukan jin. Dia benar-benar tak terkendali sedangkan aku sendiri kwalahan menenangkannya. Tiba-tiba suamiku lari kencang tanpa tahu kemana ia pergi. Setelah itu aku tak melihatnya lagi, kecuali hari ini sedangkan ia sudah menjadi pengemis. 
Suami Salma terhenyak mendengar cerita istrinya, dan tangisnya pun pecah. Salma kebingungan melihat suaminya tiba-tiba menangis.
“Mas, Anda mengapa? Apa yang membuatmu menangis?”
“Salma, tahukah kamu siapakah pengemis yang dipukuli oleh suamimu waktu itu?” Suami Salma menatap istrinya dengan mata sembab. Salma terkejut dengan pertanyaan suaminya.
“Siapa?!”
“Pengemis itu adalah aku”, jawab suami Salma lirih, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan kembali terisak.Salma terpaku mendengar ucapan suaminya.
“Lahaula wala quwwata illa billah” katanya lirih.
  
-THE END-

#  كما تدين تدان #

Jumat, 26 April 2013

MAAFKAN DINDA...

Hampir setahun sejak pernikahanku, aku dan suamiku tinggal di kos-kosan. Paling belakang, tinggal keluarga muda dengan dua anak, Pak Nasrul namanya. Bagian tengah, ada beberapa kamar untuk anak-anak SMA Islam. Rata-rata kelas II. Paling depan menghadap ke jalan adalah tempat tinggal kami. Bagian samping, memanjang ke belakang adalah tempat cuci dan jemuran penghuni kos-kosan. Jendela kami tepat menghadap ke tempat cucian.
***
Seperti biasa, tiap Kamis sore anak-anak SMA itu mencuci seragam sekolah mereka karena Jum’at besok libur. Anak-anak itu tak memakai kerudung, karena bagi mereka kerudung hanyalah peraturan sekolah.
 Di tempat cucian, suara gaduh gadis-gadis SMA itu membuatkku yang sedang istirahat dan tiduran di kamar merasa terganggu. Biasa, anak ABG memang suka berlebihan jika bercanda. Inilah yang membuatku risih dengan ulah mereka. Sebenarnya sudah berkali-kali ku tegur mereka, bahkan tak jarang ku memarahi mereka, tapi namanya saja anak-anak yang belum dewasa, masih saja belum kapok.
Suara mereka makin ramai, suara tawa dan jeritan menjadi satu dan membikin suasana hatiku memanas. Akhirnya kesebaranku mulai terkikis dan terpaksa ku turun dari ranjang untuk melihat sumber kegaduhan itu. 
Dari balik tirai kamar, ku arahkan mataku ke jendela. Pemandangan pertama yang kulihat bukanlah gadis-gadis yang gaduh itu, tapi sosok suamiku yang sedang duduk di depan jendela yang menghadap ke tempat cucian. Di tangannya ada koran yang tengah dibacanya. Melihat kondisi tersebut, kurasakan suhu badanku tiba-tiba naik, menjalar dari kaki sampai kepala. Kupingku panas. Dadaku terasa sesak. Mengapa suamiku memilih tempat itu untuk membaca koran? Apa maunya? Eit, terlihat dari gerakan kepalanya, dia memandang ke arah gadis-gadis itu! Wah apakah ini yang dia inginkan? Menikmati pemandangan yang mungkin menurutnya sangat mengasyikkan atau bahkan bisa buat cuci mata di sore hari?. Perlahan ku hampiri dia, dan ku sentuh pundaknya. Ia menggerakkan kepalanya sedikit dan kembali ke koran yang dibacanya.
“Sepertinya dari tadi tak beranjak dari sini, Mas. Serius lagi. Memang ada kabar menarik apa di koran?”, kataku dengan senyum sinis. Nada suaraku lembut tapi menohok. Ku memang menyindirnya.
“Hm, biasa aja ...”, kata suamiku sambil membolak-balikan halaman tanpa menoleh ke arahku walau sebentar. Cih! Tentu saja biasa, tapi yang bikin kerasan di tempat ini karena ada gadis-gadis itu kan? .
Ku berjalan menuju rak buku di samping suamiku, mengambil buku dan sekedar membolak-balik halaman tanpa membaca. Ku menunggu sampai suamiku berkata sesuatu untukku. Tapi tak kunjung juga ia berbicara. Kuambil beberapa buku dengan cepat dan sengaja ku jatuhkan salah satu buku yang ku bawa.
Srek! Kusampar buku yang terjatuh di lantai, sambil melirik suamiku yang menatap ke luar jendela. Huh! Begitu asyiknya melihat gadis-gadis tak berkerudung itu sehingga tak menggubrisku.
Tapi ... apa benar suamiku melihat anak-anak yang sedang mencuci itu? Dia kan  baca koran? Ah! Kamuflase! Sebentar-sebentar matanya kan diangkat, tepat pada gadis-gadis muda itu kah?
Terbakar sudah hatiku melihat suamiku yang semakin banyak melemparkan pandangannya kepada gadis-gadis itu. Dasar mata keranjang! Umpatku dalam hati. Huh! Gadis-gadis itu apalagi, genit! Tertawa dibuat-buat. Nyanyi keras-keras pula! Memang merdu!? Pasang aksi di depan suamiku! Hatiku terus mengumpat.
Apakah karena perutku buncit sehingga sudah tak menarik lagi? Toh juga karena mengandung anak suamiku kan? Aku juga masih muda? Paling cuma selisih lima tahun dengan gadis-gadis itu, apasih yang kurang dari diriku?. Mataku memerah, tangisku hampir pecah.
Ku bergegas menuju dapur. Krompyang!! Kujatuh kan tutup panci agar menarik perhatian suamiku.
“Ada apa, sayang?” terdengar suara suamiku.
Nah! Berhasil! Tapi, ... dia memanggilku ‘sayang’? Alaaah, paling cuma pura-pura saja. Aku diam saja.
Masya Allah, sudah sejahat inikah aku? Bukankah suamiku memang menyayangiku? Apalagi saat hamil ini? Apakah syaithon telah meniupkan api cemburu di hatiku? Dan melalaikanku dari mengingat Mu?
Sesaat suamiku masuk ke dapur. Kulihat ada gurat kekecewaan di wajahnya. Tak terdengar lagi suara anak-anak tadi. Sudah selesai mencuci rupanya.
“Pak Nasrul tidak lewat. Ku tunggu dari tadi untuk menitipkan surat ijin, agar bisa mengantarmu ke bidan sore ini, sekalian belanja perlengkapan bayi”, kata suamiku.
Astaghfirullah ... Jadi ... ? Kupeluk suamiku dengan mata berkaca-kaca.
“Kok menangis?” godanya tanpa prasangka.
Kubenamkan kepalaku di dadanya untuk menutupi rasa bersalahku.
“Kenapa, Sayang? Maafkan Mas tak bisa mengantarmu hari ini. Mas usahakan besok, insya Allah”, katanya tulus sambil membelai rambutku lembut. Hatiku kian menjerit.
“Maafkan Dinda, Mas.. Dinda sayang Mas..”
Ya Allah, ampunilah aku karena cemburu butaku, sampai berburuk sangka pada suamiku yang dengan ketulusannya begitu sangat menyayangiku.
‘Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah persangkaan. Karena sebagian persangkaan ada dosa’. Al-Hujurat:12.


-SELESAI-


Rabu, 24 April 2013

METODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Al-hamdulillahirabbil ‘alamin, setelah saya mengikuti seminar pembelajaran bahasa Arab di Ma’had Abu Bakar as-Shiddiq, saya mendapatkan manfaat yang sangat banyak sekali, yaitu bagaimana cara mengajarkan bahasa Arab yang banar dan sesuai dengan tingkatan yang ada. Berikut ini akan saya mencoba berbagi apa yang saya dapatkan dalam seminar tersebut. Semoga bermanfaat.
Ada empat unsur yang dipelajari dalam mempelajari pelajaran berbahasa, yaitu  listening, speaking, reading, dan writing.
A.    Listening / Fahmul Masmu’/ Menyimak.
Listening dalam bahasa Arab diistilahkan dengan Fahmul Masmu’, yaitu memindahkan bahasa yang terdengar kepada makna yang dimaksudkan.
Dalam mengajarkan fahmul masmu’, diharapkan anak didik mampu:
1.      Mengenali suara dan membedakan yang mirip dan berdekatan (berkaitan dengan pengucapan huruf, misalnya: عليم dan اليم,  ).
2.      Membedakan bacaan huruf dalam bahasa siswa dan bahasa Arab. (Dengan pengertian bahwa cara mengucapkan huruf-huruf dalam bahasa Arab tidak seperti pengucapan huruf dalam bahasa Indonesia atau Jawa).
3.      Mengenali bacaan panjang pendek, syaddah, tanwin dan tanda baca lain.
4.      Mengenali makna yang tersirat dari intonasi baca, seperti kagum, bertanya, memberitakan, dst.
5.      Menggunakan hubungan symbol bacaan dan tulisan dan membedakan antara keduanya.
6.      Menemukan ide pokok dan penjelas dari yang telah didengarkan.
Adapun jenis materi fahmul masmu’ ada dua, yaitu:
A.    Fahmul Masmu’ Mukatstsaf.
-          Murid memahami teks atau dialog dengan detail dan menguasai kosa katanya.
-          Biasanya teks panjang dan disampaikan di dalam kelas dan dalam bimbingan langsung dari guru.
B.     Fahmul Masmu’ Muwassa’
-          Meny imak teks atau dialog panjang untuk memahami makna umum darinya.
-          Mengulang kembali mendengar teks untuk mendengarkan teks-teks yang dibicarakan sebelumnya.
-          Guru hanya mendiskusikan tentang ide paling penting dari teks yang didingarkan.
Adapun langkah-langkah pengajaran materi fahmul masmu’ ialah:
-          Pendahuluan materi.
-          Guru menjelaskan materi.
-          Guru memperdengarkan materi teks maupun dialog.
-          Guru memberikan penjelasan tentang mufradat dan ungkapan baru, seseuai dengan metodenya.
-          Memperdengarkan teks maupun dialog sekali lagi.
-          Guru mendiskusikan kandungan umum materi.
-          Guru menyampaikan soal latihan fahmul masmu’.

B.     Speaking atau Maharatul Kalam
 
Al-kalam (bicara, percakapan) termasuk ketrampilan berbahasa yang sangat penting. Jika kita mau mengurutkan, maka al-kalam atau percakcapan ini menduduki peringkat ke dua setelah istima’ dalam proses belajar mengajar bahasa Arab. Bahkan al-kalam merupakan inti dalam pembelajaran bahasa Arab. Sehingga sama sekali tidak benar jika dalam mempelajari bahasa Arab kita mengesampingkan ketrampilan berbicara atau bercakap-cakap ini. Jika kita analogikan, orang yang mempelajari bahasa Arab dan menguasainya namun tidak mahir dalam berbicara dan bercakap-cakap, maka kita gambarkan, kalau itu adalah suatu kitab, maka orang yang menguasai kaedah bahasa Arab tetapi tidak mahir berbicara dan bercakap-cakap, maka dia masih berada di hamisy kitab tersebut dan belum masuk pada inti kitab. Artinya al-kalam atau ketrampilan berbicara merupakan suatu yang prinsip yang sama sekali tidak boleh diabaikan.
Target pengajaran Maharatul Kalam ialah:
1.      Mampu melafadzkan tiap huruf secara fashih dan benar, keluaar dari makharijnya secara tepat.
2.      Bisa membedaka n ucapan huruf-huruf yang mirip tapi beda.
3.      Bisa membedakan antara ucapan dengan bunyi panjang dan pendek.
4.      Mampu mengucapkan kata dan kemudian kalimat secara tepat dan benar.
5.      Mampu menggunakan tarkib / susunan bahasa Arab secara benar dalam percakapan.
6.      Mampu mengutarakan/mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dengan cara yang benar.
Dengan demikian, target pokok dalam mempelajari ketrampilan berbicara dan bercakap-cakap adalah kemampuan mengungkapkan apa yang ada di dalam benak dan kemampuan berbicara dalam bahasa Arab dengan benar dan fashih, karena inti dari berbahasa adalah dalam hal bicara.
Cara pengajaran ketrampilan berbicara:
1.      Memompa motivasi pada anak.
-          Katakan: salah tidak apa-apa, jangan takut salah, karena takut salah itu salah yang apa-apa J.
-          Memberikan perhatian yang cukup ketika murid praktek bicara.
-          Pastikan murid itu relaks dan percaya diri.
-          Tidak mencibir ketika anak salah.
2.      Jam pelajaran kalam/ta’bir syafahy adalah waktu untuk murid bukan untuk ustadz-ustadzahnya.
3.      Bertahap dan berproses.
Misalnya pada tingkat dasar, guru memulai dengan menghafalkan mufradat (kosakata) baru dan diulang-ulang. Sangat baik sekali jika dalam memperkaya kosa kata baru digunakan media yang mendukung, sehingga murid tidak menghafal, tetapi mengingat, dan ini akan lebih mudah dan tidak memberatkan. Jika dalam sesi ini murid sudah menguasai, maka berkembang pada pembuatan kalimat dengan menggunakan kosa kata yang telah diajarkan. Setelah itu baru meningkat pada menghubungkan antar kalimat (pada kalimat yang disusun acak). Begitu seterusnya, dan yang terpenting adalah tetap menggunakan tema yang sesuai dengan tingkatan mereka.
Tatkala murid dipandang sudah mempunyai kemampuan yang lebih matang, maka guru dihasung untuk melangkah lebih jauh yaitu:
·         Muhawarah Syafahy (percakapan antara 2 murid), yang mana muhawarah atau percakapan, merupakan inti dari pembelajaran bahasa Arab.
·         Bercerita singkat. Jika percakapan berlaku pada dua orang, maka cerita atau hikayat berlaku hanya satu orang. Jadi seorang murid bercerita sebagai ekspresi dari apa yang ada di dalam benaknya dari tema yang sudah ditentukan, misalnya tentang aktivitas sehari-hari atau tentang liburan. Dan lebih diutamakan memerintahkan murid untuk bercerita di depan kelas supaya mendapatkan perhatian penuh dari teman-temannya, sehingga mereka juga bisa bersama-sama memahami dan mengoreksi apa yang diceritakan.
·         Ceramah ilmiyah.
Ini sangat cocok sekali untuk murid yang sudah mencapai tingkat yang paling tinggi. Sangat bagus sekali kalau model ceramah di buat seperti ketika seminar, yaitu ada yang jadi moderator, pembicara dengan bahasa Arab, kemudian penerjemah. Atau dengan cara lain juga bisa.
4.      Evaluasi.
Perlu diingat, bahwa pada jam maharatul kalam adalah jam khusus untuk anak dan bukan untuk guru. Sehingga pada jam ini guru hendaklah tidak banyak bicara kecuali hanya sebentar saja, sedangkan murid, maka diusahakan seoptimal mungkin untuk memanfaatkan pelajaran ini sebagai kesempatan latihan .Adapun tugas guru selama jam pelajaran ini adalah mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh murid, kemudian membahasnya diakhir pelajaran. Sangat tidak dibenarkan, jika guru sama sekali tidak memperhatikan bagaimana mereka berbicara dan kemudian mengatakan, “yang penting mereka berani bicara dulu, adapun untuk kesalahan, mereka akan mengetahuinya sendiri ketika besar, kelak”. Sikap seperti ini tentu sama sekali tidak dibenarkan. Karena jika hal ini dibiarkan terjadi, maka murid akan selalu mengulang-ulang kesalahan tersebut bahkan sampai lulus dan menjadi alumni atau bahkan sampai menjadi guru. Ini semua terjadi disebabkan tatkala murid melakukan kesalahan yang pertama kali, tidak langsung dibenarkan.
Yang perlu diperhatikan adalah masalah makharij huruf dan panjang pendeknya, karena kesalahan dalam berucap sangat mempengaruhi perubahan arti. Sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:
§  Dalam hal makhraj:
شديد                              -                       سديد
ناضر                             -                       ناظر
عليم                               -                       أليم
سيف                              -                       صيف
يسير                              -                       يصير
§  Dalam hal panjang pendek.
مساكين                           -                       مساكن
آمين                               -                       آمن
كافور                             -                       كفور
إن                                 -                       إنا 

C.      Reading / Maharatul Qiraah
>  Pembagian pembelajaran maharatul qira’ah menurut tahapannya:
Tahap pertama: cara pengucapan huruf.
Tahap kedua : cara pengucapan huruf yang telah menjadi kata.
Tahap ketiga : membaca kalimat-kalimat pendek.
Tahap keempat : dari kalimat-kalimat pendek meningkat pada bacaan yang tidak panjang dan tidak pula pendek.
Tahap kelima : membaca bacaan yang tidak panjang dan tidak pula pendek.
Tahap keenam : Tahap persiapan menghadapi teks panjang.
Tahap ketujuh : membaca teks panjang.

Cara pengajaran maharatul qiraah.
1.      Dalam ketrampilan membaca, guru mengenalkan pada murid bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf hijaiyyah yang benar dan sesuai makhrajnya, serta mengenalkan bagaimana menggunakan huruf-huruf itu dalam pembuatan kata atau kalimat. Selain itu juga, guru juga mengajarkan bagaimana memadukan antara membaca dan menulis. Sehingga, murid harus bisa membaca apa yang ia tulis begitu juga sebaliknya, mampu menuliskan apa yang dia baca. Sangat bagus sekali ketika pengenalan mufaradat difasilitasi dengan media.
2.      Selain menjadikan anak mampu membaca perhuruf, perkata, dan perkalimat secara benar dan fashih, murid dituntut untuk dapat memahami apa yang ia baca sesuai konteks kalimatnya.
3.      Membaca dengan mengkritisi yang dia baca, sehingga murid tahu secara detail apa yang dia baca, bahkan sampai faham tentang kedudukan antar kalimatnya dari segi nahwu dan shorofnya.
4.      Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengajaran membaca / maharatul qiraah:
Membedakan antara huruf qamariah dengan huruf syamsyiah (karena akan mempengaruhi lahjah).
* Memperhatikan bacaan huruf ta’ marbuthah yang terletak diakhir kalimat (yaitu berubah menjadi huruf ha’).
* Memperhatikan bacaan huruf yang di fathatain yang jatuh sebelum tanda baca ( berubah bacaannya menjadi alif mamdudah).
* Adapun untuk dhommatain dan kasratain, maka membacanya dengan disukun.
* Memperhitungkan tanda-tanda baca.
* Memperhatikan intonasi bacaan (ex: ketika bertanya dan ta’jub).
* Mengucapkan dengan fashih dan tidak tergesa-gesa ketika membaca.
* Memperhatikan panjang pendeknya, begitu juga idgham, waqaf, ikhfa’, dan iqlab,
> Macam-macam ketrampilan membaca:
1.      Jenis membaca sesuai sifat kerjanya, yaitu:
-          Membaca tanpa suara. Dengan cara ini pembaca mendapatkan pemahaman dari bacaannya hanya dengan memindahkan penglihatannya dari satu kalimat kepada kalimat yang lain tanpa sibuk dengan mengeluarkan suara, sehingga hanya focus memahami apa yang ia baca.
-          Membaca dengan jahr. Yaitu membaca dengan suara yang dapat didenganr orang lain sambil mempertimbangakan pemahaman yang sesuai dengan yang ia baca.
2.      Jenis membaca yang dilakukan hanya untuk memperoleh tujuannya saja.
-          Membaca jenis ini bisa dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa atau membaca dengan sekilas. Kecepatan memang menjadi tujuan, namun tetap tidak boleh mengorbankan pengertian. Dalam membaca metodhe cepat ini murid tidak diminta untuk memahami rincian-rinciannya, akan tetapi cukup dengan pokok-pokoknya saja.
-          Membaca analitis.
Membaca analitis ini melatih murid untuk membaca secara teliti dan kritis sehingga murid mendapatkan kesimpulan secara tak tertulis secara explicit dari bacaannya tersebut.

D.    Maharatul Kitabah (writing ) / ketrampilan menulis.
Ada tiga proses dalam mempelajari ketrampilan menulis, yaitu: (1) menulis hijaiyyah (kitabatu harf hijaiyyah), (2) menulis kata (kitabatul kalimat), (3) menulis kalimat (kitabatul jumlah).
Tahap pertama, menulis hijaiyyah. Secara umum, tahapan ini berbentuk latihan menulis huruf-huruf hijaiyyah dalam beragam bentuk dan posisi (saat berdiri sendiri atau bersambung dengan yang lain; saat berada di depan, di tengah atau di akhir).
Tahap kedua, menulis kata. Secara umum tahapan ini berupa latihan menulis kata secara teliti dan cermat, misalnya dengan memperhatikan keberadaan huruf-huruf yang di baca namun tidak ditulis atau sebaliknya, huruf-huruf yang ditulis namun tidak dibaca; ta’ maftuhah dan ta’ marbuthah; alif tegak dan alif layyinah; bersambungnya alif-lam dengan huruf-huruf qamariyah dan syamsyiyah; hamzah qath’, hamzah washal, hamzah di tengah dan di akhir kata; dan masih banyak lagi.
Tahap ketiga, menulis kalimat. Ini merupakan tahapan menulis setelah terampil menulis kata. Tahap ini merupakan latihan merangkai kata dan menuangkan makna. Ini kerap disebut dengan tabir tahriry, yaitu mengungkapkan makna dalam bentuk tertulis. Ketrampilan menulis pada tingkat ini dibutuhkan kemampuan intelegensi, sehingga murid sudah ha rus mulai diajari tentang nahwu dan shorof.

Allahul Muwaffiq.